Yang Datang dan Yang Pergi: Ketika Cinta Tak Pernah Benar-Benar Pergi

waktu baca 5 menit
4

FILM | EDITORIALINDONESIA.ID – Ada cinta yang tak pernah benar-benar selesai, meski waktu telah memisahkan. Ada kenangan yang kembali hadir ketika seseorang dari masa lalu mengetuk pintu kehidupan. Ada pula rahasia keluarga yang tersimpan selama puluhan tahun. Kisah-kisah tersebut berkelindan dalam Yang Datang dan Yang Pergi, film terbaru persembahan Triximages dan Dash Pictures yang mempertemukan Dian Sastrowardoyo dan Roy Sungkono.

Dian memerankan Sinta, sementara Roy Sungkono berperan sebagai Banawan. Keduanya terlibat dalam cerita yang berpusat pada sebuah guest house tua peninggalan keluarga Sinta. Bangunan tersebut bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang yang menyimpan jejak pertemuan, perpisahan, harapan, pengkhianatan, hingga rahasia masa lalu.

Official trailer yang telah dirilis memperlihatkan kehidupan Sinta yang dikelilingi orang-orang dengan cerita masing-masing. Kehadiran Banawan, teman masa kecil yang kembali memasuki kehidupannya saat dewasa, membuka kembali lembaran kenangan sekaligus menghadirkan kemungkinan cinta yang sempat tertinggal.

Namun, perjalanan Sinta tidak sesederhana menemukan kembali cinta lama. Sejumlah laki-laki yang datang dan pergi dari guest house tersebut membawa cerita, harapan, hingga pengkhianatan. Berbagai peristiwa itu kemudian memunculkan persoalan yang melibatkan Sinta dan keluarganya.

Menariknya, cerita film ini bergerak melalui tiga periode waktu berbeda, yakni 1965, 1999, dan 2026. Ketiganya menjadi kepingan cerita yang saling terhubung untuk mengungkap sejarah keluarga Sinta dan berbagai rahasia yang tersimpan di balik guest house tua tersebut.

Cinta, Kenangan, dan Rahasia yang Melintasi Generasi

Di balik balutan romansa, Yang Datang dan Yang Pergi juga mengangkat persoalan tentang bagaimana masa lalu membentuk kehidupan seseorang. Film ini menempatkan perempuan sebagai individu yang memiliki hak untuk menentukan masa depan, bukan sekadar penerima warisan cerita dan keputusan generasi sebelumnya.

Penulis, produser, sekaligus sutradara Nurman Hakim mengatakan, film ini mengeksplorasi hubungan antara warisan masa lalu dan pilihan seseorang dalam menentukan arah kehidupannya.

“Melalui film Yang Datang dan Yang Pergi, kami ingin mengeksplorasi bagaimana masa lalu membentuk kehidupan seseorang, sekaligus bagaimana seorang perempuan menghadapi warisan tersebut untuk menentukan masa depannya. Setiap generasi tentunya mewarisi cerita dari generasi sebelumnya. Namun, tidak semua cerita harus berakhir dengan cara yang sama,” ujar Nurman dalam keterangan tertulisnya, Minggu (01/11).

Pandangan serupa disampaikan Nan Achnas, yang bersama Nurman menulis, memproduseri, dan menyutradarai film ini. Menurut Nan, setiap generasi memiliki kesempatan menentukan apa yang ingin dipertahankan dan apa yang perlu ditinggalkan dari masa lalu.

“Setiap generasi memiliki kesempatan untuk menentukan apa yang ingin dipertahankan dan apa yang ingin ditinggalkan. Bagi perempuan, pilihan tersebut juga berkaitan dengan hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri,” ujar Nan.

Bagi Dian Sastrowardoyo, karakter Sinta menawarkan perspektif menarik tentang perempuan, warisan keluarga, dan kebebasan menentukan masa depan. Sinta bukan sekadar penerima cerita masa lalu, tetapi juga individu yang memiliki kendali atas keputusan hidupnya.

“Di film ini, karakter Sinta diperlihatkan sebagai perempuan yang bukan hanya sebagai penerima warisan masa lalu, tetapi juga sebagai individu yang memiliki pilihan terhadap masa depannya, dan menurut saya itu juga sangat merefleksikan apa yang dialami oleh banyak perempuan hingga saat ini,” kata Dian.

Reuni Dian Sastrowardoyo dengan Dua Sineas

Dian Sastrowardoyo saat konferensi pers film Yang Datang dan Yang Pergi, drama romantis yang mengangkat kisah cinta, rahasia keluarga, dan perjalanan lintas generasi. (Foto: Istimewa)

Film Yang Datang dan Yang Pergi juga menjadi momentum reuni Dian Sastrowardoyo dengan dua sineas yang pernah bekerja sama dengannya dalam perjalanan karier perfilman Indonesia.

Dian sebelumnya berkolaborasi dengan Nurman Hakim melalui film 3 Doa 3 Cinta (2008). Sementara bersama Nan Achnas, Dian pernah terlibat dalam Pasir Berbisik (2001), salah satu karya ikonik dalam perjalanan perfilman Indonesia.

Kini, ketiganya kembali dipertemukan melalui sebuah cerita yang mengeksplorasi cinta, keluarga, dan perjalanan perempuan menghadapi masa lalu.

Selain Dian dan Roy, film ini turut dibintangi Dimas Aditya, David Ari Wibowo, dan Retno Soetarto. Dimas Aditya juga kembali bekerja sama dengan Nurman Hakim setelah sebelumnya terlibat dalam film Bid’ah Cinta (2017).

Bagi Roy Sungkono, film ini menjadi pengalaman baru karena untuk pertama kalinya ia dipasangkan dengan Dian dalam sebuah kisah romantis.

Ia memerankan Banawan, sosok dari masa kecil Sinta yang kembali hadir dalam kehidupan perempuan tersebut saat dewasa. Menurut Roy, guest house tua keluarga Sinta menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini.

“Banawan adalah orang lama dari masa lalu Sinta, yang kembali datang di kehidupannya saat dewasa. Guest house tua keluarga Sinta di film ini akan menjadi ruang tempat masa lalu dan masa kini bertemu, yang memperlihatkan bagaimana sejarah keluarga bisa mempengaruhi kehidupan generasi berikutnya,” ujar Roy.

Melalui perpaduan romansa, drama keluarga, dan perjalanan lintas generasi, Yang Datang dan Yang Pergi menawarkan cerita tentang cinta yang tidak selalu selesai, kenangan yang tak mudah dilupakan, serta rahasia yang perlahan menemukan jalannya untuk terungkap.

Sebab, tidak semua yang pergi benar-benar menghilang. Ada yang menetap dalam ingatan, ada yang kembali mengetuk pintu kehidupan, dan ada pula yang meninggalkan cerita untuk diselesaikan oleh generasi berikutnya.

Pada akhirnya, film ini mengajak penonton merenungkan satu hal: apakah cinta dan masa lalu harus selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup, atau justru ada saatnya seseorang berani menentukan akhir ceritanya sendiri?

Film Yang Datang dan Yang Pergi dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 3 Desember 2026. (Red)

Unggulan

LAINNYA