Penerbit KBM Kini Menjadi Rumah Para Penulis Nusantara: Usung Transparansi, Layanan Egaliter, dan Fasilitas Fantastis

waktu baca 5 menit
1

Penerbit KBM, yang didirikan oleh pegiat literasi Mohammad IJ kini menjadi rumah tepercaya bagi sekitar 10.000 penulis yang 80 persennya didominasi kalangan akademisi. Kesuksesan ini didorong oleh budaya perusahaan yang egaliter dan selalu tanggap di semua lini, serta proses pengajuan ISBN ke Perpusnas yang berjalan sangat cepat dan minim revisi. Selain itu, para penulis—yang rata-rata memercayakan penerbitan hingga lima judul buku—selalu dimanjakan dengan fasilitas pengerjaan tata letak dan desain sampul yang cepat dan elegan, layanan bebas revisi, hingga jaminan gratis ongkos kirim.

SLEMAN — Industri penerbitan buku di Indonesia terus mengalami dinamika seiring dengan tingginya minat masyarakat, khususnya kalangan akademisi dan profesional, untuk menuangkan gagasan ke dalam bentuk karya tulis yang sah dan diakui. Namun, di tengah antusiasme tersebut, tidak sedikit penulis yang justru menelan pil pahit.

Maraknya oknum penerbit tidak bertanggung jawab yang kerap menjanjikan kemudahan namun berakhir dengan penipuan, penahanan royalti, hingga proses cetak yang terbengkalai, telah menjadi momok yang meresahkan di dunia literasi Tanah Air.

Berangkat dari keprihatinan mendalam terhadap fenomena tersebut, CV Karya Bakti Makmur (Penerbit KBM) hadir sebagai angin segar sekaligus solusi nyata. Didirikan oleh Mohammad Imam Junaidi, seorang pegiat literasi yang juga merupakan seorang penulis, Penerbit KBM dibangun dengan satu visi luhur: mengembalikan muruah dunia penerbitan melalui nilai-nilai transparansi, kemudahan, dan pelayanan prima.

Keresahan Mohammad IJ—sapaan akrabnya—terhadap banyaknya rekan sejawat yang tertipu oleh oknum penerbit abal-abal menjadi motor penggerak utama lahirnya KBM. Ia bertekad menciptakan sebuah ekosistem penerbitan yang benar-benar memihak kepada penulis, di mana karya mereka dihargai dan prosesnya dijalankan secara profesional tanpa ada biaya atau syarat yang ditutup-tutupi.

“Penerbit KBM kini telah menjadi rumah para penulis. Banyak sekali penulis yang datang dan langsung merasa cocok dengan kami sejak interaksi pertama,” ungkap Mohammad IJ.

Ia menambahkan bahwa asas transparansi yang diterapkan perusahaannya membuat para penulis merasa aman dan dihargai. Tidak ada biaya tersembunyi, tidak ada kontrak yang menjebak, dan semua proses produksi dilaporkan secara berkala kepada pihak penulis.

Komitmen kuat terhadap kenyamanan penulis ini membuahkan hasil yang sangat luar biasa. Hingga saat ini, Penerbit KBM telah dipercaya oleh kurang lebih 10.000 penulis dari seluruh pelosok Indonesia. Angka ini bukan sekadar statistik kosong, melainkan bukti nyata dari tingginya tingkat kepuasan dan loyalitas klien.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa rata-rata setiap penulis yang pernah bekerja sama dengan KBM akan kembali lagi untuk menerbitkan karya berikutnya, dengan rata-rata penerbitan mencapai lima judul buku per penulis. Hal ini membuktikan bahwa KBM bukan sekadar tempat mencetak buku, melainkan mitra strategis jangka panjang bagi para kreator literasi.

Menariknya, dari puluhan ribu penulis yang tergabung dalam keluarga besar Penerbit buku KBM, sekitar 80 persen di antaranya merupakan kalangan akademisi. Dosen, guru, peneliti, hingga mahasiswa pascasarjana mendominasi daftar klien KBM. Tingginya minat kaum akademisi ini tidak lepas dari salah satu keunggulan utama Penerbit KBM, yaitu kecepatan dan ketepatan dalam proses administratif kelengkapan buku.

Bagi seorang akademisi, buku ber-ISBN (International Standard Book Number) merupakan salah satu syarat penting untuk keperluan akreditasi, kenaikan pangkat (KUM), maupun penyebaran hasil penelitian. Penerbit KBM memahami betul urgensi waktu tersebut. Oleh karena itu, mereka menghadirkan sistem pengajuan ISBN yang sangat cepat dan efisien.

Berkat ketelitian dan kepatuhan KBM terhadap standar operasional prosedur yang ditetapkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), proses pengajuan ISBN di KBM sangat minim revisi. Penulis tidak perlu menunggu berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan nomor identitas buku mereka; KBM memastikan proses ini berjalan mulus dan berakselerasi tinggi.

Selain keunggulan di ranah administratif, daya tarik KBM juga terletak pada budaya perusahaannya yang sangat egaliter. Di Penerbit KBM, tidak ada sekat birokrasi komunikasi yang kaku dan menyulitkan.

Semua tim, mulai dari Customer Service (CS) di garda terdepan hingga jajaran manajemen dan owner, menerapkan standar pelayanan yang setara: ramah, hangat, dan fast response.

Budaya respons cepat ini menghapus stigma bahwa berurusan dengan penerbit itu kaku dan lamban. Penulis dapat berkonsultasi kapan saja dan mendapatkan jawaban atau solusi secara real-time.

Manja dan nyaman. Dua kata tersebut mungkin paling tepat untuk menggambarkan apa yang dirasakan oleh penulis saat memercayakan naskahnya kepada KBM. Dari sisi pra-cetak, Penerbit KBM menawarkan layanan penyuntingan, tata letak (layout), dan desain sampul (cover) yang sangat cepat, tepat, dan elegan.

Desain sampul dikerjakan oleh tenaga profesional yang mampu menerjemahkan jiwa dari naskah ke dalam bentuk visual yang memikat. Lebih dari itu, KBM memberikan fasilitas yang jarang berani ditawarkan oleh penerbit lain: bebas revisi. Penulis diberikan keleluasaan untuk memastikan bahwa setiap tata letak teks dan visual buku benar-benar sesuai dengan visi mereka sebelum naik cetak, tanpa perlu khawatir akan dikenakan biaya tambahan.

Sebagai puncak dari komitmen memanjakan penulis, Penerbit KBM menghadirkan berbagai fasilitas fantastis lainnya, salah satu yang paling diapresiasi adalah layanan gratis ongkos kirim. Di negara kepulauan seperti Indonesia, biaya logistik dan pengiriman buku sering kali menjadi beban finansial tersendiri yang membengkak melebihi biaya cetak itu sendiri.

Dengan menanggung biaya ongkos kirim, KBM memastikan bahwa penulis yang berada di pulau-pulau atau daerah pelosok sekali pun dapat menerima buku cetak fisik karya mereka dengan senyum mengembang, tanpa harus merogoh kocek lebih dalam.

Melalui perpaduan antara visi literasi yang murni, budaya kerja yang setara, efisiensi operasional tingkat tinggi, dan dedikasi untuk melayani dari hati, Penerbit KBM tidak hanya sekadar bertahan di kerasnya industri penerbitan, tetapi berhasil memimpin perubahan.

Di tangan Mohammad IJ dan seluruh tim KBM, penerbitan buku bukan lagi sebuah proses bisnis yang dingin, melainkan sebuah kolaborasi hangat yang merayakan lahirnya ilmu pengetahuan dan kreativitas tanpa batas di Indonesia.

Artikel ini juga tayang di vritimes

Unggulan

LAINNYA