” />
Jakarta, 7 Oktober 2026 — Platform perdagangan aset keuangan digital FLOQ meluncurkan fitur KOL Watchlist yang memungkinkan pengguna melihat aset kripto yang sedang dipantau sejumlah key opinion leader (KOL) di industri kripto.
Fitur tersebut ditujukan sebagai sarana informasi dan edukasi bagi pengguna, khususnya investor pemula. FLOQ menegaskan bahwa daftar aset dalam watchlist bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset tertentu.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis mengatakan, fitur tersebut dikembangkan untuk memberikan akses informasi yang lebih transparan kepada pengguna yang selama ini banyak mencari referensi investasi melalui media sosial.
“Selama ini banyak pemula mengambil keputusan dari potongan video atau unggahan yang tidak jelas kapan dibuat dan oleh siapa. Kami ingin memindahkan percakapan itu ke tempat yang lebih terang. Siapa KOL-nya jelas, akunnya terverifikasi, dan kapan daftarnya terakhir diperbarui juga terlihat,” kata Yudho dalam keterangan tertulis, Rabu (7/10/2026).
Dalam fitur KOL Watchlist, setiap KOL yang ditampilkan harus memiliki akun FLOQ yang telah melalui proses verifikasi identitas atau know your customer (KYC). Daftar aset yang dipantau terhubung dengan aset favorit, seperti Bitcoin, Ethereum, dan lainnya pada akun masing-masing KOL.
Setiap daftar berisi sekitar lima hingga 10 aset kripto dan dilengkapi informasi mengenai waktu pembaruan terakhir. Informasi tersebut dimaksudkan untuk membantu pengguna mempertimbangkan relevansi daftar dengan kondisi pasar saat mengaksesnya.
Yudho mengatakan, watchlist tidak dapat disamakan dengan rekomendasi investasi.
“Watchlist itu daftar pantauan, bukan sinyal beli. KOL juga bisa keliru, dan pasar kripto bergerak sangat cepat. Kami ingin pengguna belajar melihat cara orang berpengalaman menyusun perhatiannya, lalu memutuskan sendiri berdasarkan riset dan profil risikonya,” ujarnya.
Pada tahap awal, KOL Watchlist menampilkan tiga tokoh. Ketiganya diurutkan berdasarkan jumlah kunjungan ke halaman masing-masing di aplikasi FLOQ. Urutan tersebut mencerminkan tingkat kunjungan pengguna dan bukan menunjukkan kinerja aset yang dipantau.
Ketiga KOL tersebut adalah Kalimasada, Andreas Tobing, dan Andy.
Kalimasada tercatat memperoleh 126.400 kunjungan. Ia dikenal sebagai edukator dan trader kripto serta salah satu pendiri komunitas belajar kripto Akademi Crypto.
Andreas Tobing memperoleh 109.000 kunjungan. Ia merupakan kreator konten yang membahas blockchain dan Web3 melalui sejumlah platform media sosial, termasuk TikTok, YouTube, dan Instagram.
Sementara itu, Andy tercatat memperoleh 97.600 kunjungan. Ia telah berinvestasi di aset kripto sejak 2017 dan merupakan penggagas komunitas edukasi Crypstocks.
Peluncuran KOL Watchlist dilakukan bertepatan dengan satu tahun operasional FLOQ. Dalam periode tersebut, FLOQ menyebut jumlah pengguna telah mencapai 1,8 juta.
Total dana dalam bentuk rupiah dan aset kripto yang disetorkan pengguna juga disebut telah melampaui Rp1 triliun.
FLOQ juga menyebut perusahaan memperoleh penghargaan sebagai exchange kripto dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia pada 2025 melalui Sadewa Award. Pada 2026, perusahaan memperoleh predikat Top Compliance dari Yudhistira Award serta menghimpun pendanaan sebesar 11 juta dollar AS.
“Tumbuh cepat itu bagian yang mudah. Menjaga kepercayaan ketika penggunanya sudah jutaan, itulah produk kami yang sebenarnya. Dana lebih dari Rp1 triliun itu amanah, dan keterbukaan seperti KOL Watchlist adalah salah satu cara kami merawatnya,” kata Yudho.
Peluncuran fitur tersebut berlangsung ketika aktivitas perdagangan aset kripto di Indonesia kembali meningkat.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai transaksi aset kripto pada Agustus 2026 mencapai Rp23,16 triliun. Angka tersebut meningkat 12,87 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Jumlah akun konsumen aset kripto di Indonesia juga mencapai 23,21 juta akun.
Menurut Yudho, pertumbuhan jumlah pengguna perlu diikuti dengan peningkatan literasi agar masyarakat tidak mengambil keputusan investasi hanya berdasarkan tren atau popularitas suatu aset.
“Semakin banyak orang baru masuk, semakin besar risiko mereka ikut-ikutan. Kami memilih membuka informasinya, sekaligus mengajari cara membacanya,” ujarnya.
FLOQ mengingatkan pengguna pemula agar tidak menjadikan daftar KOL Watchlist sebagai dasar tunggal dalam mengambil keputusan transaksi.
Pengguna disarankan terlebih dahulu melihat waktu pembaruan daftar karena kondisi pasar aset kripto dapat berubah dalam waktu singkat. Selain itu, pengguna perlu melakukan riset terhadap proyek, kegunaan aset, tim pengembang, serta likuiditas sebelum melakukan transaksi.
FLOQ juga mengingatkan pengguna untuk menggunakan dana yang tidak diperlukan untuk kebutuhan sehari-hari dan menyesuaikan transaksi dengan profil risiko masing-masing.
Pengguna juga diminta menghindari keputusan yang didorong oleh fear of missing out (FOMO) dan tidak menempatkan seluruh dana pada satu aset.
“Kami tidak ingin pengguna menyalin daftar orang lain mentah-mentah. Gunakan daftar itu sebagai bahan bertanya: mengapa aset ini dipantau, apa risikonya, dan apakah cocok untuk saya. Kalau pertanyaan itu muncul, fiturnya sudah bekerja,” pungkas Yudho.
Artikel ini juga tayang di vritimes