JAKARTA, 4 Januari 2026 – Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menegaskan bahwa upaya pemulihan pascabencana banjir bandang di Provinsi Aceh tidak boleh hanya berhenti pada perbaikan fisik infrastruktur semata. Lebih dari itu, pemulihan harus menyentuh aspek psikologis, yakni mengembalikan rasa aman dan kenyamanan masyarakat dalam menjalani aktivitas harian.
Hal tersebut
diwujudkan Kementerian PU melalui percepatan pembangunan sumur bor air bersih
di lokasi-lokasi strategis yang menjadi pusat kehidupan sosial warga, seperti
tempat ibadah, fasilitas pendidikan, pasar, kantor pemerintahan, hingga Hunian
Sementara (Huntara).
“Masjid,
sekolah, dan pesantren adalah ruang hidup masyarakat. Ketika air bersih
tersedia di sana, warga bisa kembali beribadah dengan tenang, anak-anak bisa
belajar dengan layak, dan risiko penyakit dapat dicegah,” ujar Menteri Dody
Hanggodo.
Menteri Dody
menambahkan bahwa pemulihan fasilitas ini krusial untuk memastikan kehidupan
sosial dan ekonomi warga dapat segera bangkit kembali setelah masa tanggap
darurat.
Sejak 28
Desember 2025, Kementerian PU telah memulai pekerjaan pengeboran sumur bor air
tanah di sejumlah lokasi ibadah dan fasilitas umum. Saat ini, satu titik telah
fungsional, yakni di Masjid Simpang Lhee, di Kecamatan Manyak Payed, yang
segera dilengkapi dengan fasilitas pendukung berupa rumah pompa dan MCK.
Pembangunan ini
dilaksanakan secara terintegrasi oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya dan
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PU. Lokasi-lokasi ini dipilih
agar air bersih dapat dimanfaatkan bersama oleh masyarakat sekitar (komunal),
baik pada masa darurat maupun pemulihan jangka panjang.
Berikut adalah
beberapa titik yang telah memasuki tahap pengeboran:
1. Di Kabupaten Aceh Tamiang:
·
Fasilitas Kesehatan: Puskesmas Karang Baru, Tamiang Hulu, Sekerak, Bandar Pusaka, Kuala
Simpang, Rantau, Bendahara, dan Polindes Manyak Payed.
·
Fasilitas Umum & Ibadah: Pasar Manyak Payed, Masjid Babul Falah (Karang Baru), Masjid Al
Ikhlas (Banda Mulia), Kantor Kecamatan Kuala Simpang, Huntara DPRK Aceh
Tamiang, Ponpes Darul Muchlisin (Karang Baru), TK Nurul Ikhlas Telaga Muku II
(Banda Mulia), dan Meunasah Meurandeh (Manyak Payed).
2. Di Kabupaten Pidie Jaya: Kompleks Dishub Pidie Jaya, Kompleks Perpustakaan dan Arsip,
Meunasah Gampong Beurawang, Meunasah Balek, dan Meunasah Gampong Dayah Kruet.
3. Di Kabupaten Bener Meriah: Huntara Blang Rakal dan Huntara Tunyang.
Dalam melakukan
pengeboran sumur, Kementerian PU menerapkan pendekatan berbasis data
hidrogeologi dan mitigasi risiko bencana. Kedalaman pengeboran bervariasi
antara 60 hingga 82 meter, disesuaikan dengan hasil survei geolistrik untuk
memastikan kualitas dan keberlanjutan sumber air. Upaya ini dilakukan untuk
memastikan ketersediaan air bersih yang aman, berkelanjutan, dan tetap
berfungsi pada kondisi darurat akibat bencana hidrometeorologi ekstrem.
Secara
keseluruhan, khusus untuk Kabupaten Aceh Tamiang, Kementerian PU merencanakan
pembangunan 47 titik sumur bor air baku yang tersebar di 30 lokasi pada 12
kecamatan. Rinciannya terdiri atas 14 titik sumur bor dangkal dan 33 titik
sumur bor dalam. Setiap titik dirancang sebagai cadangan air bersih jangka
menengah.
Langkah ini
berjalan seiring dengan penyediaan sarana pendukung darurat lain, seperti IPA
Mobile, mobil tangki air, hidran umum, toilet darurat, dan toren air, yang
telah beroperasi di Aceh Tamiang dan wilayah terdampak lainnya.
Program kerja ini
merupakan bagian dari “Setahun Bekerja, Bergerak – Berdampak” dalam menjalankan
ASTA CITA dari Presiden Prabowo Subianto.
#SigapMembangunNegeriUntukRakyat
#SetahunBerdampak
Artikel ini juga tayang di vritimes