Nvidia Perkenalkan Platform Rubin, Superchip AI Generasi Terbaru

waktu baca 3 menit
11

Platform Rubin menjadi generasi terbaru superkomputer AI Nvidia dengan Vera Rubin superchip, menawarkan pengurangan biaya GPU dan inference token secara signifikan.

Raksasa teknologi kecerdasan buatan (AI) Nvidia (NVDA) kembali mencuri perhatian dunia setelah secara resmi memperkenalkan superchip generasi terbarunya, Vera Rubin, dalam ajang CES 2026 yang digelar di Las Vegas. Peluncuran ini menjadi langkah strategis Nvidia dalam menjawab lonjakan permintaan komputasi AI, baik untuk kebutuhan training maupun inference yang terus meningkat secara eksponensial.

Vera Rubin merupakan salah satu dari enam chip yang membentuk platform Rubin, generasi terbaru superkomputer AI Nvidia. Dalam satu prosesor, Vera Rubin menggabungkan satu Vera CPU dan dua Rubin GPU, menjadikannya solusi komputasi terintegrasi dengan performa tinggi. CEO Nvidia, Jensen Huang, menyebut kehadiran Rubin datang di waktu yang sangat tepat ketika industri AI memasuki fase baru dengan kebutuhan komputasi yang jauh lebih kompleks.

Nvidia memposisikan platform Rubin sebagai fondasi utama untuk pengembangan agentic AI, model penalaran tingkat lanjut, hingga mixture-of-experts (MoE)—sebuah pendekatan AI yang menggabungkan berbagai model “ahli” untuk menjawab pertanyaan secara lebih spesifik dan efisien. Selain Vera CPU dan Rubin GPU, platform ini juga didukung oleh empat chip jaringan dan penyimpanan canggih, seperti NVLink 6 Switch, ConnectX-9 SuperNIC, BlueField-4 DPU, dan Spectrum-6 Ethernet Switch.

Keunggulan utama Rubin terletak pada efisiensinya. Nvidia mengklaim platform ini mampu mengurangi kebutuhan GPU hingga 4 kali lebih sedikit untuk melatih model MoE dibandingkan generasi sebelumnya, Grace Blackwell. Tak hanya itu, biaya inference token juga diklaim turun hingga 10 kali lipat, sebuah faktor penting mengingat pemrosesan token merupakan salah satu komponen paling boros energi dalam pengoperasian model AI skala besar.

Semua komponen tersebut dapat dirangkai dalam Vera Rubin NVL72 server, yang menggabungkan 72 GPU dalam satu sistem. Ketika beberapa NVL72 disatukan, terbentuklah DGX SuperPOD, superkomputer AI berskala masif yang kini menjadi incaran perusahaan teknologi global seperti Microsoft, Google, Amazon, hingga Meta. Tak heran jika Nvidia kini menjadi salah satu perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia, meski valuasinya masih berfluktuasi seiring kekhawatiran terhadap potensi gelembung AI.

Bagi investor, perkembangan teknologi seperti ini menjadi indikator penting dalam membaca arah pasar saham global, khususnya sektor teknologi dan AI. Pergerakan saham Amerika Serikat, aset kripto, hingga emas digital dapat dipantau secara real-time melalui aplikasi Nanovest. Aplikasi ini memungkinkan investor Indonesia untuk mengakses berbagai instrumen investasi dalam satu platform yang praktis dan aman.

Jika kamu tertarik memulai investasi di saham global maupun aset kripto, Nanovest bisa menjadi pilihan. Selain telah terdaftar dan berlisensi resmi sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Nanovest juga memberikan perlindungan aset dari risiko cybercrime melalui Asuransi Sinarmas. Aplikasi Nanovest tersedia di Play Store dan App Store, serta informasi lengkap dapat diakses melalui situs resmi www.nanovest.io.

Dengan perkembangan AI yang kian pesat dan peluang investasi yang semakin luas, memahami teknologi dan memantau pasar melalui platform tepercaya menjadi langkah penting bagi investor masa kini.

Artikel ini juga tayang di vritimes

Unggulan

LAINNYA