Jakarta , 5 Januari 2026 – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk menyambut proyeksi lonjakan konsumsi baja nasional yang akan didorong oleh implementasi Proyek Strategis Nasional (PSN) periode 2025–2029. Dengan kata lain, PSN dipandang sebagai katalis terkuat bagi kebangkitan industri baja. Proyeksi tersebut disampaikan oleh Pengamat Industri Baja dan Pertambangan, Widodo Setiadharmaji, berdasarkan kajian material flow terhadap struktur PSN terbaru.
Widodo menegaskan
bahwa PSN bukan hanya program pembangunan fisik, tetapi fondasi percepatan
industrialisasi yang akan menempatkan baja sebagai komponen paling strategis
dalam pembangunan ekonomi Indonesia.
“PSN
2025–2029 tidak sekadar membangun proyek publik, tetapi membuka struktur
permintaan baja baru yang berasal dari tumbuhnya kawasan industri, logistik,
manufaktur, dan hilirisasi. Ketika infrastruktur publik terhubung dengan
kawasan industri, multiplier konsumsi baja akan bergerak bertahap menuju level
negara industri,” ujar Widodo Setiadharmaji.
PSN Sebagai Fondasi Pertumbuhan Permintaan
Baja Nasional
Kenaikan
konsumsi baja nasional dari 15,1 juta ton (2018) menjadi 17,6 juta ton (2023)
menunjukkan tren pertumbuhan jangka panjang yang stabil. Dengan proyeksi
mencapai 19,6 juta ton pada 2025, kebutuhan baja yang terus meningkat ini akan
diperkuat oleh PSN 2025–2029 yang mencakup tujuh kelompok strategis di
antaranya sektor pangan, air, energi, hilirisasi, transformasi digital,
pembangunan manusia, kawasan industri, dan konektivitas.
Dari
seluruh PSN, kebutuhan baja terbesar berasal dari pembangunan kawasan industri
& KEK (12,4 juta ton) serta proyek konektivitas—jalan, rel, pelabuhan,
bandara, dan utilitas kawasan (8,9 juta ton). Kedua kategori ini merupakan
fondasi ekspansi sektor manufaktur dan logistik nasional.
PSN
berfungsi sebagai public investment
trigger, yakni investasi publik yang memicu peningkatan investasi swasta
dalam skala besar. Multiplier
effect ini akan
mendorong permintaan baja dalam berbagai sektor seperti perumahan modern,
pabrik, pusat logistik, data center, dan industri berat.
Indonesia Menuju Konsumsi Baja
100 Juta Ton
Kajian
Widodo Setiadharmaji memproyeksikan bahwa konsumsi baja Indonesia akan tumbuh
bertahap sebagai berikut ini:
2026–2029:
naik dari 23 juta ton menjadi 32 juta ton
2030–2034:
rata-rata 36 juta ton per tahun
2035–2039:
rata-rata 59,5 juta ton per tahun
2040–2045:
berpotensi menembus 100 juta ton per tahun
Menyikapi hal tersebut, PT Krakatau Steel (Persero)
Tbk / Krakatau Steel Group (IDX: KRAS) sebagai BUMN strategis dan produsen baja terintegrasi
menegaskan kesiapan penuh dalam mendukung pelaksanaan PSN tersebut.
Dengan proyeksi tersebut, Krakatau
Steel menyatakan komitmennya
sebagai
tulang punggung pemenuhan baja nasional.
“PSN
2025–2029 merupakan momentum untuk memperkuat daya saing industri baja
Indonesia dan memastikan kedaulatan industri dalam negeri. Kami siap
bertransformasi dan memperluas kapasitas agar Indonesia tidak lagi bergantung
pada baja impor,” ujar Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Akbar
Djohan, yang juga menjabat sebagai Chairman Indonesian Iron & Steel
Industry Association (IISIA) dan Chairman Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA).
Krakatau
Steel memandang tren ini sebagai peluang strategis untuk memperkuat kapasitas produksi
nasional dan untuk menekan
impor. Melalui proyeksi tersebut, Krakatau Steel
memastikan
kebutuhan baja PSN, hilirisasi, dan ekspansi kawasan industri dapat dipenuhi
melalui standar kualitas tinggi dan kemampuan produksi yang terintegrasi.
Mewujudkan Kemandirian Industri
Baja Nasional
Agenda
pembangunan nasional tertuang dalam
Asta Cita yang dicanangkan oleh Presiden RI, Prabowo Subianto.
Hal ini meliputi penguatan
industrialisasi, efisiensi logistik, dan integrasi kawasan sebagai prioritas
utama untuk memperkuat fondasi ekonomi Indonesia.
Dalam
kerangka ini, industri baja memiliki peran penting sebagai material dasar bagi
seluruh rantai pembangunan, mulai dari infrastruktur, industri manufaktur,
energi, hingga hilirisasi mineral. Konektivitas yang semakin baik dan kawasan
industri yang semakin terintegrasi akan menciptakan permintaan baja yang lebih
besar dan lebih stabil, sekaligus membuka ruang bagi Indonesia untuk memperkuat
kemandirian industri.
Sejalan
dengan arah tersebut, Krakatau Steel berperan sebagai aktor strategis dalam
memastikan ketersediaan baja nasional yang berkualitas tinggi untuk seluruh
kebutuhan pembangunan. Dengan transformasi yang saat ini tengah dijalankan,
Krakatau Steel berada pada posisi yang tepat untuk mendukung implementasi Asta
Cita, mulai dari penyediaan baja bagi PSN hingga peningkatan kapasitas pasokan
untuk sektor hilirisasi dan manufaktur.
Di
tengah agenda besar pembangunan menuju Indonesia Emas 2045, Krakatau Steel akan terus
memperkuat kontribusinya sebagai tulang punggung kedaulatan industri dan
katalis bagi percepatan pertumbuhan ekonomi berbasis industri. Hal ini sejalan
dengan ASTA CITA Presiden Prabowo Subianto demi kemakmuran rakyat Indonesia. Dan keberhasilan tersebut tak lepas dengan dukungan
Danantara ke depannya.
Artikel ini juga tayang di vritimes