Bandung– Trend program-program pemberdayaan menjadi satu strategi untuk menunjukkan komitemen perusahaan untuk menyokong usaha menciptkan masyarakat yang sejahtera dan mandiri berkelanjutan. Bagian penting dari proses ini harus diawali dengan penelitian pendahulan dengan pendekatan yang sesuai.
Hal ini yang menjadi dasar penginisiasian program “Workshop Series Pengabdian Masyarakat: Memilih Pendekatan Penelitian yang Tepat untuk Memetakan Potensi Desa dan Pengukuran Keberhasilan Program Pemberdayaan” yang dilakukan oleh Tim Dosen Prodi Digital Public Relations Telkom University.
Workshop ini dilakukan atas kerjasama dengan Desa Berdaya Foundation ini diikuti oleh 65 peserta secara nasional dari seluruh Kantor Cabang Desa Berdaya Foundation.
Dua topik utama yang diangkat dalam series ini adalah tentang pemilihan dan penggunaan Pendekatan Kuantitaif dan Kualitatif untuk dapat merumuskan sebuah program pemberdayaan yang berkelanjutan serta untuk mengukur tinggak engagement dan keberhasilan program.
Pertama, tetang perumusan rancangan program, penelitian kualitatif dapat digunakan sebagai metode penjaringan isu dan data lapangan untuk pemetaan aktor dan potensi yang dapat dilibatkan dalam kolaborasi program. Sehingga, perumusan strategi implementasi program dapat disesuaikan dengan kebutuhan stakeholder dan penyelesaian masalah dilapangan.
Kedua, pendekatan kuantitatif digunakan sebagai bentuk pengukuran keberhasilan implementasi program. Pengukuran keberhasilan ini dapat dinilai dari aspek: Indikator Kepuasan Masyarakat [IKM], Social Return On Investmen [SROI], Stakeholder Engagement, dan Social Licence Index.
Hasil sebuah penelitian akan menentukan dan mengarahkan keberlanjutan program. Hal ini juga akan membantu perusahaan untuk membuat sebuah program yang bentuknya top down yang tidak jarang tidak sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan stakeholder di lapangan. Implikasi yang harus ditanggung oleh perusahaan jika membuat sebuah program dengan model top down menjadikan stakeholder tidak engage dengan program dan tidak akan mampu memberikan dampak yang positif bagi perusahaan baik dari konteks dukungan sosial maupun reputasi dan nilai kehadiran serta komitmen perusahaan.
“Melalui penelitian program pemberdayaan yang diinisasi oleh perusahaan dapat diprediksi dan dikontrol baik tingkat keberhasilan dan resiko yang mungkin akan terjadi. Sehingga wajib hukumnya melakukan penelitian untuk assessment awal kebutuhan menyesuaikan dengan lapangan dan penilaian hasil akhir intervensi program pada stakeholder sasar. Jadi jelas nilai keberlanjutan program”, pungkas Choiria Anggraini, narasumber sekaligus Ketua Tim Workshop Series Pengabdian Masyarakat.
“Pendekatan kualitatif bukan hanya melihat sisi narasi atau cerita-cerita stakeholder. Pendekatan ini jika dijalankan sesuai dengan kaidah bisa sampai memberikan data berupaka gambaran heterogenitas isu tetapi juga sampai pemetaan aktor. Sehingga jelas aktor mana yang bisa diajak kolaborasi dalam sebuah isu tertentu”, penekanan yang disampaikan oleh, Razie Razak, narasumber workshop yang menyampaikan tentang Pendekatan Kualitatif.
Hal senada juga disampaikan oleh peserta, Budi Pratama, “Betul. Itu salah satu kesulitan kami menentukan stakeholder mana yang bisa diajak berkolaborasi dan mendukung program-program kami, tapi setidaknya dengan workshop ini sudah mulai tergambar tentang cara menentukannya. Harus diawali dengan penelitian yang tepat”.
Pernyataan senada juga digambarkan oleh peserta lain Ayatul Yuza, “Case dilapangan banyak sekali yang terkait dengan ini. Penelitian menjadi satu solusi dan tantangan tersendiri bagi kami. Kami berharap bisa ada lanjutan yang membedah secara aplikatif setiap indikator yang tadi disampaikan