Belajar Berpikir Kritis dari Derrida dan Nagarjuna: Jangan Mudah Menganggap Sesuatu sebagai Kebenaran Mutlak

waktu baca 8 menit
9
Kolom, EditorialIndonesia – Di tengah derasnya informasi dan perbedaan pendapat, pemikiran Jacques Derrida dan Nagarjuna mengajak kita untuk tidak buru-buru menerima sesuatu sebagai kebenaran mutlak. Keduanya mengajarkan pentingnya memeriksa cara berpikir, memahami hubungan antarsesuatu, dan membuka ruang bagi pemahaman yang lebih mendalam.

Pernahkah kita menganggap seseorang pasti benar hanya karena ia seorang guru, pejabat, atau tokoh yang dihormati? Atau menganggap sesuatu pasti buruk karena berbeda dari kebiasaan yang selama ini kita kenal?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menerima anggapan semacam itu tanpa memeriksanya lebih jauh. Kita terbiasa membagi sesuatu menjadi dua kelompok: benar dan salah, pintar dan bodoh, modern dan tradisional, bahkan Barat dan Timur. Padahal, kenyataan tidak selalu sesederhana pembagian tersebut.

Di sinilah pemikiran filsuf Prancis Jacques Derrida dan filsuf Buddha dari India, Nagarjuna, menjadi menarik. Meskipun berasal dari tradisi dan zaman yang berbeda, keduanya mengajak manusia untuk memeriksa kembali keyakinan yang dianggap sudah pasti.

Derrida: Membongkar Anggapan yang Dianggap Wajar

Jacques Derrida dikenal melalui pemikiran yang disebut dekonstruksi. Istilah ini mungkin terdengar rumit, tetapi gagasannya dapat dipahami melalui pengalaman sederhana.

Bayangkan sebuah ruang kelas. Guru dipandang sebagai orang yang memiliki pengetahuan, sedangkan murid dianggap sebagai orang yang harus menerima pengetahuan. Hubungan tersebut memang memiliki dasar karena guru mempunyai tanggung jawab mengajar. Namun, apakah itu berarti guru selalu benar dan murid tidak mungkin memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai suatu persoalan?

Dekonstruksi mengajak kita memeriksa anggapan tersebut. Bukan untuk merendahkan guru atau membalikkan kedudukan guru dan murid, melainkan untuk melihat bahwa hubungan keduanya tidak sesederhana pembagian antara orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui.

Guru pun dapat belajar dari pertanyaan murid. Sebaliknya, murid membutuhkan bimbingan untuk menguji pemahamannya. Pengetahuan berkembang melalui proses yang melibatkan keduanya.

Dengan cara ini, dekonstruksi membantu kita melihat bahwa sesuatu yang tampak wajar belum tentu bebas dari asumsi yang perlu diperiksa.

Derrida juga mengkritik kecenderungan yang disebut logosentrisme. Secara sederhana, logosentrisme dapat dipahami sebagai kecenderungan mencari satu pusat atau dasar yang dianggap mampu memberikan kepastian mutlak terhadap makna.

Dalam kehidupan sehari-hari, kecenderungan ini terlihat ketika seseorang menganggap pendapat tokoh yang dihormati tidak boleh dipertanyakan. Pernyataan seseorang diterima bukan karena alasan dan bukti yang mendukungnya, melainkan karena kedudukan orang yang menyampaikannya.

Padahal, sebuah pernyataan tetap perlu diperiksa, siapa pun yang mengucapkannya. Menghormati seseorang tidak harus berarti menerima seluruh pendapatnya tanpa pertanyaan.

Dekonstruksi juga membantu kita memahami oposisi biner, yaitu pembagian dua hal yang dipertentangkan. Misalnya, pintar dan bodoh, tradisional dan modern, atau Barat dan Timur.

Pembedaan semacam itu tidak selalu salah. Masalah muncul ketika salah satu sisi langsung dianggap lebih baik, sedangkan sisi lainnya dipandang lebih rendah.

Kita, misalnya, dapat menganggap teknologi modern selalu lebih baik daripada pengetahuan tradisional. Padahal, teknologi modern mungkin menawarkan kemudahan, sementara pengetahuan tradisional dapat menyimpan pengalaman panjang masyarakat dalam memahami lingkungannya.

Yang diperlukan bukan memilih salah satunya secara membabi buta, melainkan memeriksa kelebihan, keterbatasan, dan konteks masing-masing.

Dengan demikian, dekonstruksi bukan kegiatan menghancurkan pemikiran orang lain. Ia merupakan upaya membaca lebih teliti, menemukan asumsi yang tersembunyi, dan memahami persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.

Nagarjuna: Tidak Ada Sesuatu yang Berdiri Sendiri

Jika Derrida banyak membahas bahasa, teks, dan pembentukan makna, Nagarjuna mengajak kita memikirkan sesuatu yang lebih mendasar: apakah segala sesuatu benar-benar berdiri sendiri tanpa bergantung pada hal lain?

Nagarjuna merupakan pemikir utama aliran Madhyamaka dalam tradisi Buddhisme Mahayana. Salah satu gagasan pentingnya adalah pratityasamutpada, yang berarti kemunculan bergantungan. Artinya, sesuatu muncul karena berbagai sebab dan kondisi yang saling berhubungan.

Ambil contoh sebuah pohon. Pohon tidak tumbuh begitu saja tanpa kondisi yang mendukung. Ia membutuhkan benih, air, tanah, cahaya matahari, dan lingkungan yang memungkinkan pertumbuhannya.

Ketika kondisi tersebut berubah, pertumbuhan pohon pun dapat berubah.

Contoh sederhana ini membantu menjelaskan bahwa keberadaan sesuatu berkaitan dengan banyak hal di luar dirinya.

Dari pemikiran tersebut, kita dapat memahami konsep sunyata atau kekosongan. Kata ini sering disalahartikan sebagai pernyataan bahwa segala sesuatu tidak ada. Padahal, dalam pemikiran Nagarjuna, kekosongan bukan berarti ketiadaan mutlak.

Sunyata berarti bahwa sesuatu tidak memiliki hakikat mandiri yang sepenuhnya terpisah dari sebab, kondisi, dan hubungannya dengan hal lain.

Pohon tetap ada. Ia dapat tumbuh, menghasilkan buah, dan memberikan manfaat. Namun, keberadaannya tidak terlepas dari kondisi yang memungkinkan semua itu terjadi.

Demikian pula manusia. Identitas dan pengalaman seseorang terbentuk melalui banyak hubungan, seperti keluarga, pendidikan, lingkungan sosial, bahasa, dan pengalaman hidup.

Kita tidak dapat memahami seseorang hanya dari satu potongan kehidupannya, apalagi langsung memberikan penilaian menyeluruh berdasarkan satu peristiwa.

Pemikiran Nagarjuna mengingatkan kita untuk melihat hubungan yang lebih luas sebelum mengambil kesimpulan.

Jalan Tengah: Tidak Terjebak pada Dua Ekstrem

Nagarjuna juga dikenal melalui gagasan Jalan Tengah. Secara sederhana, Jalan Tengah menghindarkan kita dari dua pandangan ekstrem dalam memahami keberadaan.

Ekstrem pertama adalah menganggap segala sesuatu memiliki hakikat tetap dan berdiri sendiri. Ekstrem kedua adalah menganggap tidak ada sesuatu pun yang benar-benar ada atau memiliki fungsi.

Nagarjuna tidak menerima kedua pandangan tersebut. Sesuatu dapat hadir dan berfungsi, tetapi keberadaannya tidak harus dipahami sebagai sesuatu yang mandiri dan tidak bergantung pada apa pun.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat mengambil pelajaran bahwa suatu persoalan tidak selalu harus dipahami melalui dua pilihan yang saling meniadakan.

Ketika membahas keberhasilan seseorang, misalnya, kita tidak harus memilih antara bakat atau kerja keras sebagai satu-satunya penentu. Bakat, usaha, kesempatan, pendidikan, dan dukungan lingkungan dapat sama-sama berperan.

Tentu saja, contoh tersebut hanyalah gambaran sederhana. Jalan Tengah dalam pemikiran Nagarjuna mempunyai dasar filosofis yang lebih mendalam, terutama berkaitan dengan pemahaman tentang keberadaan dan pembebasan dari penderitaan.

Namun, ilustrasi itu membantu kita melihat pentingnya menghindari kesimpulan yang terlalu sederhana terhadap persoalan yang kompleks.

Dua Pemikir, Dua Jalan untuk Memeriksa Keyakinan

Derrida dan Nagarjuna memiliki titik persinggungan, tetapi keduanya tidak mengajarkan hal yang persis sama.

Derrida mengajak kita memeriksa bagaimana bahasa dan pemikiran membentuk makna. Ia mempertanyakan anggapan bahwa makna dapat ditetapkan secara mutlak tanpa memperhatikan konteks, hubungan, dan kemungkinan penafsiran lainnya.

Sementara itu, Nagarjuna mengajak kita memahami bahwa sesuatu muncul melalui hubungan sebab dan kondisi. Ia mengkritik anggapan bahwa sesuatu memiliki hakikat yang sepenuhnya mandiri.

Jika disederhanakan, Derrida mengajak kita bertanya, “Mengapa kita memahami sesuatu dengan cara seperti ini?” Sementara itu, Nagarjuna mengajak kita bertanya, “Apakah sesuatu benar-benar berdiri sendiri tanpa bergantung pada hal lain?”

Kedua pertanyaan tersebut relevan dalam kehidupan sekarang, ketika informasi bergerak begitu cepat dan orang mudah membentuk penilaian berdasarkan potongan berita, unggahan media sosial, atau pendapat yang berulang kali didengar.

Sebuah informasi yang ramai dibagikan belum tentu benar. Pendapat yang disampaikan banyak orang belum tentu bebas dari kekeliruan. Begitu pula informasi yang berbeda dari keyakinan kita tidak otomatis salah.

Kita perlu memeriksa sumbernya, memahami konteksnya, dan menilai bukti yang tersedia.

Namun, berpikir kritis bukan berarti menolak semua pendapat atau meragukan segala sesuatu tanpa akhir. Justru, sikap kritis membutuhkan keterbukaan sekaligus tanggung jawab untuk membedakan pendapat yang didukung alasan kuat dari pendapat yang tidak memiliki dasar memadai.

Membaca Ulang Sastra, Membaca Ulang Kehidupan

Pemikiran Derrida dan Nagarjuna juga dapat membantu kita membaca karya sastra Nusantara, termasuk Serat Centhini.

Karya sastra tidak hanya berisi cerita. Di dalamnya dapat ditemukan pandangan hidup, pengetahuan, nilai budaya, persoalan sosial, serta hubungan manusia dengan lingkungan dan keyakinannya.

Ketika membaca Serat Centhini, misalnya, kita tidak cukup hanya bertanya tentang apa yang diceritakan. Kita juga dapat mempertanyakan latar belakang cerita, cara suatu nilai disampaikan, dan bagaimana pembaca masa kini memahami nilai tersebut.

Pembacaan melalui dekonstruksi dapat membantu menemukan asumsi, pertentangan, atau hierarki yang terdapat dalam teks. Sementara itu, gagasan Nagarjuna tentang ketergantungan mengingatkan bahwa pemahaman terhadap karya sastra berkaitan dengan bahasa, sejarah, budaya, dan keadaan pembacanya.

Makna yang ditemukan pembaca masa kini mungkin berbeda dari pemahaman masyarakat pada masa ketika teks itu ditulis. Akan tetapi, perbedaan tersebut tidak berarti semua penafsiran dapat dibenarkan begitu saja. Pembacaan tetap perlu didukung oleh isi teks, konteks sejarah, dan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan demikian, karya sastra lama tidak harus diperlakukan sebagai peninggalan masa lalu yang hanya layak disimpan. Ia dapat menjadi ruang dialog antara pengalaman masa lalu dan persoalan kehidupan masa kini.

Berani Bertanya, Bersedia Memeriksa Diri

Pada akhirnya, pelajaran penting dari Derrida dan Nagarjuna bukanlah menghafal istilah-istilah filsafat yang rumit. Yang lebih penting adalah keberanian untuk bertanya dan kesediaan untuk memeriksa kembali cara kita memahami dunia.

Ketika berhadapan dengan suatu pendapat, kita dapat bertanya: apa dasar pendapat itu? Ketika melihat dua hal yang dipertentangkan, kita dapat bertanya: apakah keduanya benar-benar bertolak belakang? Dan ketika menilai seseorang atau suatu peristiwa, kita dapat bertanya: apakah saya sudah memahami konteksnya secara utuh?

Pertanyaan semacam itu tidak selalu menghasilkan jawaban yang mudah. Namun, proses bertanya dapat mencegah kita terjebak dalam penilaian yang terburu-buru.

Berpikir kritis bukan berarti merasa paling benar. Sebaliknya, berpikir kritis berarti menyadari bahwa pemahaman kita memiliki batas dan karena itu selalu terbuka untuk diperiksa.

Derrida mengajak kita membaca kembali cara makna dibentuk. Nagarjuna mengajak kita memahami bahwa segala sesuatu saling bergantung. Keduanya, melalui jalan yang berbeda, memberi pelajaran bahwa kedewasaan berpikir dimulai ketika kita tidak lagi menganggap setiap keyakinan sebagai sesuatu yang tidak boleh dipertanyakan.

Sebab, terkadang, langkah pertama untuk memahami sesuatu dengan lebih baik bukanlah mencari jawaban baru, melainkan berani mengajukan pertanyaan terhadap jawaban yang selama ini kita anggap sudah pasti. (*)

LAINNYA
Exit mobile version