Survei IPO: Prabowo Masih Teratas, Dedi Mulyadi Membayangi Ketat

waktu baca 3 menit
9

JAKARTA | EDITORIAL INDONESIA — Presiden Prabowo Subianto masih menempati posisi teratas dalam elektabilitas calon presiden berdasarkan hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) periode Agustus 2026. Namun, keunggulannya atas Dedi Mulyadi terbilang tipis.

Dalam simulasi terbuka atau top of mind, Prabowo memperoleh elektabilitas sebesar 23,4 persen. Sementara Dedi Mulyadi membayangi di posisi kedua dengan 21,7 persen.

Selisih elektabilitas keduanya hanya 1,7 poin persentase.

Di posisi ketiga terdapat Anies Baswedan dengan elektabilitas 11,5 persen. Selanjutnya, Agus Harimurti Yudhoyono memperoleh 4,5 persen, Ganjar Pranowo 4,1 persen, dan Gibran Rakabuming Raka 3,9 persen.

Sejumlah nama lainnya memperoleh dukungan di bawah tiga persen. Sherly Tjoanda berada di angka 2,1 persen, Mahfud MD 1,7 persen, Purbaya Yudhi Sadewa 1,5 persen, Muhaimin Iskandar 1,2 persen, dan Zulkifli Hasan 1,0 persen.

Adapun Bahlil Lahadalia memperoleh 0,5 persen, sedangkan Andika Perkasa, Erick Thohir, Puan Maharani, Pramono Anung, dan Airlangga Hartarto masing-masing berada di angka 0,2 persen.

Survei tersebut juga mencatat 17 persen responden belum menentukan pilihan, tidak tahu, atau merahasiakan jawabannya.

Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan, posisi Prabowo masih berada di urutan teratas dalam simulasi terbuka ketika responden tidak diberikan daftar nama calon.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan Prabowo masih memiliki tingkat keteringatan yang kuat di tengah masyarakat. Namun, selisih yang tipis dengan Dedi Mulyadi memperlihatkan persaingan elektoral masih terbuka.

“Dalam simulasi terbuka, di mana responden bebas menjawab tanpa intervensi, nama Presiden Prabowo Subianto masih berada di posisi teratas, meskipun memang tidak signifikan meninggalkan nama-nama yang lain,” kata Dedi dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Sabtu (8/8/2026).

Dedi Mulyadi Unggul dalam Simulasi 10 Nama

Peta elektabilitas berubah ketika responden diberikan daftar 10 nama calon presiden.

Dalam simulasi tertutup tersebut, Dedi Mulyadi justru berada di posisi pertama dengan elektabilitas 29,5 persen. Prabowo Subianto berada di urutan kedua dengan 19,0 persen.

Anies Baswedan menempati posisi ketiga dengan 12,7 persen. Kemudian Agus Harimurti Yudhoyono 5,8 persen, Gibran Rakabuming Raka 5,1 persen, Ganjar Pranowo 4,6 persen, dan Sherly Tjoanda 3,5 persen.

Mahfud MD memperoleh 2,8 persen, Purbaya Yudhi Sadewa 1,5 persen, dan Erick Thohir 1,2 persen. Sementara nama lainnya mencapai 2,9 persen dan responden yang tidak tahu, tidak menjawab, atau merahasiakan pilihan sebesar 11,4 persen.

Dengan demikian, terdapat perbedaan cukup mencolok antara simulasi terbuka dan simulasi tertutup. Dalam pertanyaan top of mind, Prabowo unggul tipis atas Dedi Mulyadi. Namun, ketika nama-nama calon disodorkan kepada responden, Dedi Mulyadi berbalik unggul dengan selisih 10,5 poin persentase atas Prabowo.

Dedi Kurnia Syah menilai dinamika tersebut menunjukkan peta persaingan elektoral masih sangat terbuka. Tingkat keterkenalan dan kemampuan figur untuk masuk dalam pertimbangan pemilih menjadi faktor penting dalam menentukan pilihan.

IPO menyebut survei nasional tersebut dilaksanakan pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026 terhadap 1.200 responden yang dipilih menggunakan metode multistage random sampling. Survei memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error sekitar ±2,9 persen.

Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa meski Prabowo masih menjadi nama yang paling spontan disebut masyarakat, posisi tersebut belum sepenuhnya aman. Ketika pemilih dihadapkan pada sejumlah pilihan nama, konfigurasi dukungan dapat berubah secara signifikan. (*)

LAINNYA
Exit mobile version