Hari Anak Nasional, drg. Ambar Puspitasari SpKGA, Edukasi Kesehatan Gigi Murid Disabilitas pada Pengguna Transportasi Publik

waktu baca 3 menit
2

Peringatan Hari Anak Nasional 2026 dimanfaatkan drg. Ambar Puspitasari Sp.KGA untuk mengajak puluhan murid penyandang disabilitas belajar menjaga kesehatan gigi dan mulut melalui pengalaman langsung selama menggunakan transportasi publik.

Edukasi kesehatan gigi dilaksanakan kepada 50 murid penyandang disabilitas beserta pendamping saat dalam perjalanan dengan dari Stasiun Halim menuju Stasiun Jatimulya.

Kegiatan ini dilaksanakan saat menyambut Hari Anak Nasional 2026 dengan tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan” dan diikuti murid dari SLB B Negeri 11 Jakarta, SLB B Sekolah Pangudi Luhur, SLB B Negeri 3 Jakarta, dan SLB B Santi Rama Fatmawati Jakarta. Selama perjalanan, anak-anak diajak mengenal pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut melalui penyampaian materi cara menyikat gigi yang benar secara interaktif sehingga suasana belajar terasa lebih menyenangkan. Anak-anak diberikan pula kesempatan untuk memperagakan cara menyikat gigi yang benar menggunakan phantom gigi. Dalam kegiatan ini drg Ambar dibantu oleh drg Dini Larasati yang merupakan dokter gigi fungsional LRT Jabodebek.

Menurut drg. Ambar Puspitasari Sp.KGA, yang merupakan staf pengajar ilmu kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya Malang, kebiasaan menjaga kebersihan gigi dan mulut perlu ditanamkan sejak usia dini, termasuk kepada anak-anak penyandang disabilitas, dengan metode pembelajaran yang mudah dipahami dan menyenangkan.

“Anak-anak akan lebih mudah memahami materi ketika belajar melalui pengalaman yang menyenangkan. Edukasi Kesehatan gigi dan mulut tidak selalu harus dilakukan di ruang kelas. Perjalanan menggunakan transportasi publik juga dapat menjadi media belajar yang interaktif sehingga pesan mengenai pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut lebih mudah diterima,” ujar drg. Ambar.

Selain itu, peserta diajak menerapkan langkah sederhana untuk menjaga kesehatan gigi, di antaranya menyikat gigi dua kali sehari setelah sarapan dan sebelum tidur, mengonsumsi makanan bergizi, mengurangi makanan manis dan lengket, serta memeriksakan kesehatan gigi secara rutin setiap enam bulan sekali.

Setelah perjalanan menggunakan transportasi publik yakni LRT Jabodebek selesai, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan edukasi Kesehatan gigi dan mulut melalui sesi daring bersama beberapa staf pengajar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya Malang, yaitu drg. Diena Fuadiyah, M.Si., drg. Neny Roeswahjuni, Sp.Ort., drg. Edina Hartami, Sp.KGA., dan drg. Amaliyah Nur Irianti, MdSc., Sp.KGA. Melalui Zoom Meeting, para dokter gigi tersebut berbagi pengetahuan mengenai kesehatan gigi anak antara lain penyebab gigi berlubang (karies) yaitu makanan yang manis dan lengket, bakteri dalam rongga mulut yang mampu mengubah gula menjadi zat asam, kondisi dan lingkungan rongga mulut dan struktur email gigi, serta lamanya waktu antara sisa makanan yang menempel pada gigi yang tidak segera dibersihkan. Keempat faktor ini merupakan pemicu kerusakan gigi, yang mulai terjadi di bagian email gigi dan proses infeksinya dapat berlanjut hingga ke akar gigi dan menimbulkan rasa sakit bahkan disertai pembengkakan pada gusi. Selain karies gigi, kebiasaan buruk pada anak dapat memengaruhi pertumbuhan gigi, seperti menghisap jempol, menggigit bibir atau kuku, bernafas melalui mulut hingga kebiasaan mengerot-kerot gigi saat tidur (bruxisme). Dampak dari kebiasaan buruk ini antara lain dapat menyebabkan gigi tongos, gigi berdesakan, kuku rusak, langit-lngit mulut menjadi dalam bahkan rasa sakit pada sendi rahang. Agar anak-anak memiliki gigi yang sehat, selain harus menyikat gigi secara teratur, anak-anak perlu membatasi makanan yang manis dan lengket, selalu mengkonsumsi makanan sehat dan berserat serta rutin control ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali. Gigi dan mulut yang sehat akan membantu fungsi pengunyahan baik sehingga meningkatkan asupan nutrisi ke dalam tubuh dan menunjang tumbuh kembang anak secara optimal.

Melalui kolaborasi antara tenaga kesehatan, dunia pendidikan, dan transportasi publik sebagai lokasi penyelenggaraan kegiatan, peringatan Hari Anak Nasional 2026 dapat menjadi pengalaman perjalanan dan pengetahuan yang dapat diterapkan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari.

Artikel ini juga tayang di vritimes

LAINNYA
Exit mobile version