Netflix Catat Laba Naik 29% YoY, Saham Tetap Melemah

waktu baca 3 menit
5

Netflix membukukan kenaikan laba bersih 29% secara tahunan dan proyeksi pendapatan 2026 yang positif, namun sentimen pasar masih berhati-hati.

Saham Netflix (NFLX) tercatat melemah sekitar 4% meskipun perusahaan berhasil membukukan kinerja keuangan kuartal IV yang sedikit melampaui ekspektasi pasar. Penurunan harga saham ini mencerminkan kehati-hatian investor terhadap sejumlah faktor eksternal, terutama ketidakpastian terkait rencana akuisisi Warner Bros. Discovery (WBD), yang hingga kini masih menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Dalam laporan terbarunya, Netflix mencatat pendapatan sebesar US$12,05 miliar, tumbuh 17,6% secara tahunan (YoY). Laba operasional perusahaan melonjak 30% menjadi US$2,96 miliar, dengan margin operasi yang menguat ke level 24,5%. Sementara itu, laba bersih tercatat sebesar US$2,42 miliar, meningkat 29% YoY, didukung oleh efisiensi biaya dan pertumbuhan bisnis yang stabil. Arus kas bebas (free cash flow) juga menunjukkan performa positif dengan kenaikan 36% menjadi US$1,87 miliar, memperkuat posisi keuangan Netflix dalam menghadapi ekspansi ke depan.

Meski demikian, pasar bereaksi negatif menyusul kabar perubahan struktur penawaran akuisisi Warner Bros. Discovery. Netflix dilaporkan mengajukan penawaran all-cash sebesar US$27,75 per saham untuk unit studio dan streaming WBD. Langkah ini dinilai strategis untuk memperluas pustaka konten dan mengintegrasikan layanan HBO Max, namun di sisi lain memunculkan kekhawatiran terkait risiko eksekusi, kebutuhan pendanaan, serta dampaknya terhadap struktur modal perusahaan.

Manajemen Netflix menilai akuisisi tersebut dapat memberikan nilai jangka panjang melalui peningkatan skala bisnis dan diferensiasi konten di tengah persaingan industri streaming yang semakin ketat. Namun, investor cenderung menunggu kejelasan lebih lanjut, terutama mengenai regulasi, sinergi operasional, dan dampak finansial dalam jangka menengah.

Untuk tahun 2026, Netflix memproyeksikan pendapatan di kisaran US$50,7–US$51,7 miliar dengan target margin operasi mencapai 31,5%. Proyeksi ini didorong oleh pertumbuhan jumlah pelanggan global, penyesuaian harga layanan, serta lonjakan pendapatan iklan yang diperkirakan hampir dua kali lipat. Meski prospek fundamental terlihat solid, valuasi saham yang relatif tinggi serta waktu realisasi ekspansi margin yang cenderung lebih mundur menjadi faktor penahan optimisme pasar.

Bagi investor, dinamika saham Netflix ini menunjukkan pentingnya memantau tidak hanya kinerja keuangan, tetapi juga sentimen pasar dan faktor strategis perusahaan. Pergerakan saham Amerika Serikat, aset kripto, hingga emas digital saat ini dapat dipantau secara real-time melalui aplikasi Nanovest. Platform ini memudahkan investor Indonesia untuk mengikuti perkembangan pasar global secara praktis dalam satu aplikasi.

Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di saham AS maupun aset kripto, Nanovest dapat menjadi pilihan yang aman dan terpercaya. Nanovest merupakan aplikasi investasi saham dan kripto yang telah terdaftar dan berlisensi resmi sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Selain itu, aset pengguna juga mendapatkan perlindungan dari risiko cybercrime melalui Asuransi Sinarmas, sehingga investor pemula maupun berpengalaman dapat berinvestasi dengan lebih tenang.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.nanovest.io. Aplikasi Nanovest juga telah tersedia di Play Store dan App Store, siap membantu kamu mengeksplor peluang investasi di tengah dinamika pasar global yang terus berkembang.

Artikel ini juga tayang di vritimes

LAINNYA
Exit mobile version